DAERAH

Kreatif, Waktu Libur Anak Ini Malah Jadi Duit

Bagus Arianto 

WARTASUBANG.com- Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengisi waktu liburan panjangnya, terutama bagi mereka diusia anak-anak, kerap kali manja mengajukan banyak permintaan kepada kedua orang tuanya, mulai dari minta berlibur ketempat wisata, mengajak wisata kuliner, bahkan meminta dibelikan barang mainan kesukaannya.

Namun kenyataannya tak berlaku semua anak, berbeda pada Bagus Arianto , siswa yang kini duduk di bangku kelas enam SD Kaliangsana Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang , Ia lebih memilih menghabiskan waktu liburannya dengan mengerjakan tugas sekolah yang di berikan Ibu gurunya dengan membuat kerajinan sapu lidi.

Seperti diketahui, kerajinan yang dibuat bocah berumur sekira 11 tahun ini tak lazim lagi dilakukan kebanyakan anak-anak diumuran nya.

Tak sedikit, anak-anak pada umumnya memilih cara instant (Tidak mau berproses), alias membelinya kepada pengrajin langsung. Karena disatu sisi dari segi harga juga relatif murah, jika merujuk pada harga pasaran satu ika sapu lidi dijual dari mulai Rp. 5 Ribu hingga Rp. 10 Ribu bahkan bisa lebih sesuai ukurannya.

Saat ditemui redaksi, ditanya soal kenapa ia lebih memilih menghabiskan waktu liburannya dengan membuat kerajinan dan memilih sapu lidi yang dibuatnya?

Bagus pun menjawabnya dengan tegas, jika dirinya membeli sesuatu kerajinan yang sudah jadi untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh gurunya.

Sedangkan alasan memilih sapu lidi yang dibuatnya, Ia menjelaskan selain mudah dibuat juga bahan dasarnya dari daun kelapa tua (kering) tersebut, mudah dicari dikebun-kebun yang tak jauh dari rumah tinggalnya. Karena masih banyak pepohonan buah kelapa.

“Kalau saya beli kerajinan ke pengrajin langsung itu namanya bukan tugas kerajinan . Mending buat sendiri aja, lagian waktunya pas lagi liburan panjang kan, ” kata Bagus disela-sela ditemui dikediamannya oleh redaksi.

Sebenarnya, kata dia, kalaupun sapu lidi tersebut dibeli bisa saja. Karena pengrajin tak jauh dari rumahnya.

“Tapi yang jadi persoalan, kalau beli kepengrajin yang dinilai oleh guru kita apanya. Bukan soal bagus atau tidak saja, tapi asli buatan sendiri. Ada kebanggan tersendiri, ” ungkapnya.

Terlebih, sapu lidi sendiri memiliki filosofi yang amat mendalam yang telah diajarkan oleh orang tuanya kepada dirinya.

Dimana Sapu lidi juga merupakan media belajar mandiri, bahkan diibaratkan tentanf manusia, artinya jika sapu lidi itu hanya hanya dua dan tiga tangkai saja yang diikat mungkin untuk membersihkan halaman yang begitu luas tidak akan kunjung selesai.

Namun ketika ratusan tangkai itu diikat secara kuat , sama tingginya dan panjangnya. Mungkin halaman yang begitu kotor akan mudah bersih dengan waktu yang lebih cepat dan hasil yang memuaskan.

“Begitu juga dengan kita manusia, jika bersatu dengan yang lainnya untuk mencapai satu tujuan mungkin akan mudah tercapai dengan waktu yang cepat dan hasil yang memuaskan pula,” paparnya.

“Jadi kerajinan sapu lidi ini banyak mengajarkan kepada kita juga sebagai anak-anak agar menanamkan prinsip persatuan. Seperti jargon Bersatu Kita Teguh Bercerai kita Runtuh,”tandasnya.

(Red).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top