Metro

Belajar Sampai Ke Aceh, Tono Firmansyah Ekspor Arang Kopi Keluar Negeri

Tono Firmansyah

WARTASUBANG.COM CIATER – Karena banyak permintaan arang kopi dari warga net , Tono Firmansyah warga desa Cisaat kecamatan Ciater Subang, kembangkan cara pengolahan arang kopi. dirinya mengaku sampai belajar ke Aceh untuk mendapatkan ilmu pengolahan yang baik dan benar. sampai saat ini, usaha yang ditekuninya sudah berjalan selama 5 tahun dan telah berhasil mengekspor Arang kayu kopi ke timur tengah,  Korea, Cina dan Jepang.

Tono mengatakan,” Membuat arang berawal banyak permintaan melaui internet FB dan banyaknya limbah kayu, sejak saat itu saya punya ide, baru mencari teman yang bisa bikin arang tersebut di Aceh dan saya berangkat ke Aceh,” ujarnya.

Pada saat belajar tidak langsung dikasih tau, berawal ngangkut bata, membuat tungku dari mulai badan tungku sampai ke pembuatan atap, setelah itu baru baru disuruh bikin arang.

“Sampai saat ini sudah 5 tahun, sejak 2,6 tahun mulai banyak permintaan hanya jumlah tungku masih terbatas, modal minim, pembuatan tungku dilaksabakan secara bertahap, dari mulai bikin satu gagal, karena pembuatan di Aceh dengan dikita berbeda, diaceh pakai pasir payou, selanjutnya berhasil, 5 hari pembuatan tungku dan dikasih atap,” ungkapnya, Minggu sore (27/12/2020)

Cara pembuatan arang open ini, awal  produksinya tidak dikasih air setelah matang baru dikasih air, semua pentilasi ditutup jadi tidak ada oksigen setelah kering baru dibuka.

“Adapun lamanya, membuat arang selama 2 minggu, proses bakar selama 5 hari, itu normal kondisi kayu dalam posisi kering, beda kayu yang sudah kering dengan kayu yang basah atau kena air hujan, itu bisa sampai 20 hari, jadi proses opennya lebih lama,” imbuhnya.

Kapasitas arang dalam satu tungku kecil bisa 1,5 ton, kalau yang besar bisa 3 sampai 3,5 ton, awal kita memiliki 10 open bertambah 20 open yang besar, jadi toral sampai saat ini ada 30 tungku .

“Perbedaan arang itu dari kualitas, ada perbedaan, kalau Aceh produksi bakau, kayu yang lain harus ada penebangan dan harus ada ijin,” ujat Tono.

Untuk saat ini, ekspor yang paling dominan itu, Taiwan, Korea dan Jepang, karena kayu kopi ini mereka punya market tersendiri disebutnya arang premium yang tidak keluar asap.

Tono menambahkan, Mengenai harga, lokal ada yang 3500/kg ada yang 4000, kalau ekspor bisa mencapai  5 ribu samapai 6 ribu tergantung spek yang diminta oleh buyer.

Samapai saat ini, yang ekspor baru 80 ton, rata rata satu bulan 1 kontener juga ke bondowoso, arang ini energi yang dibutuhkan oleh negara lain yang mendorong ekonomi kita, kalau dilihat ini padat karya, dari mulai nebang, produksi sanpai panen mekibatkan 20 orang yang dibelakangnya ada istri dan anak anaknya.

“Adapun keuntungan, dari modal 50 juta untuk satu kontener impoisnya hampir 90 samapai 110 juta, jenis kayu yang kita pakai kayu kopi yang asapnya itu putih, harum dan seratnya tidak berubah, kalau mahoni, jati seratnya itu pecah,” pungkasnya.

1 Comment

1 Comment

  1. محمد

    10 Juni 2021 at 4:42 pm

    سلام عليكم اريد فحم نباتي ( عاصم ) هل موجود عندك انت

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

To Top